Sabtu, 02 Juni 2012


SOAL-SOAL PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

1.         Jelaskanlah pengertian, latar belakang, tujuan dan landasan Pendidikan Kewarganegaraan!
2.         Uraikanlah pengertian bangsa, Negara, unsure-unsur Negara dan bagaimana wawasan kebangsaan Indonesia?
3.         Bagaimanakah otonomi daerah yang dilaksanakan di Indonesia? Apa keuntungan/sisi positif dan apa pula dampak negative dari pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia?
4.         Jelaskanlah arti Hak Asasi Manusia ! Bagaimanakah HAM yang terdapat dalam UUD 1945? Dan bagaimana HAM menurut Islam?
5.         Tulislah arti Istilah berikut ini!
a.       Wawasan Nusantara
b.      Ketahanan Nasional
c.       Infrastruktur Politik
d.      Suprastruktur politik
e.       Masyarakat madani
f.        Good governance


 SOAL-SOAL PENDIDIKAN UJIAN KEWARGANEGARAAN


Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan analisis saudara!
  1. Jelaskanlah:
    1. pengertian pendidikan Kwarganegaraan!
    2. Tujuan Pendidikan kewarganegaraan!
    3. Landasan ilmiah dan landasan hokum pendidikan kewarganegaraan!
  2. jelaskanlah:
    1. Pengertian Bangsa, Negara, peran warga Negara, Hubungan warga Negara dengan Negara, Hak asasi manusia!
    2. Kaitan pancasila dengan UUD 1945, Wawasan nusantara, ketahanan nasional!
    3. Perkembangan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara!
  3. Uraikanlah :
    1. wawasan nasional, latar belakang filosofis, implementasi, ajaran dasar wawasan nusantara!
    2. Sasaran, sosialisasi, tantangan, prospek, keberhasilan wawasan nusantara!
  4. Ungkapkanlah pengertian Ketahanan nasional, latar belakang, pokok-pokok pikiran, hakikat, asas , sifat dan pengaruh aspek  ketahanan nasional!
  5. jelaskanlah makna istilah berikut ini:
    1. civic education
    2. idiologi
    3. Rule of law
    4. Supra struktur Politik
    5. Infra struktur Politik


 SOAL-SOAL PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan analisis saudara!
  1. Jelaskanlah:
    1. pengertian pendidikan Kwarganegaraan!
    2. Tujuan Pendidikan kewarganegaraan!
    3. Landasan ilmiah dan landasan hokum pendidikan kewarganegaraan!
  2. jelaskanlah:
    1. Pengertian Bangsa, Negara, peran warga Negara, Hubungan warga Negara dengan Negara, Hak asasi manusia!
    2. Kaitan pancasila dengan UUD 1945, Wawasan nusantara, ketahanan nasional!
    3. Perkembangan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara!
  3. Uraikanlah :
    1. wawasan nasional, latar belakang filosofis, implementasi, ajaran dasar wawasan nusantara!
    2. Sasaran, sosialisasi, tantangan, prospek, keberhasilan wawasan nusantara!
  4. Ungkapkanlah pengertian Ketahanan nasional, latar belakang, pokok-pokok pikiran, hakikat, asas , sifat dan pengaruh aspek  ketahanan nasional!
  5. jelaskanlah makna istilah berikut ini:
    1. civic education
    2. idiologi
    3. Rule of law
    4. Supra struktur Politik
    5. Infra struktur Politik







Sabtu, 07 Januari 2012

MGMP PKn SMK/SMA/MA Kabupaten Mukomuko

Hasil Pertemuan Musyawarah Guru Mata pelajaran PKn SMK/SMA sederajat sekabupaten Mukomuko. 19 N0vember 2011 yaitu:
KetuaMGMP PKn: Junaidi (SMKN 03 Mukomuko),
Wakil ketua: Derizaldi (SMAN 08 Mukomuko),
Sekretaris    :Yanuardi (SMKN 01 Mukomuko),
Bendahara  : Nismelawati (SMAN 05 Mukomuko). Semoga kompak slalu n majulah guru PKn.
Koorcam 1 : Lupi: Mardi
Anggota:
Korcam    2: Kota:irdawati
Anggota:
Korcam  Pondok suguh: lusiana
Anggota:
Korcam Ipuh : Daliarti
Anggota:
Korcam  air Rami: Muttaqin
Anggota:
Korcam   penarik:
Anggota:
Korcam IV koto:
Anggota:
Korcam
Tuan Rumah: Lubuk Sanai/ minggu kedua januari 2012, Kamis
Materi diskusi:Perangkat pembelajaran, Nara sumber: pengawas MP PKn: Mito (UPTD Ipuh) + Yanuardi + Lusiana
Program jangka pendek:
Silabus, RPP, KKM, analisis, Remedial/pengayaan. 






Rabu, 14 Desember 2011

Remaja Dan HIV/AIDS

REMAJA DAN HIV/AIDS
Oleh Junaidi*
AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.
Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.
HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.
Siswa bagian dari remaja yang harus diselamatkan. Secara umum siswa  memiliki emosi yang bergelora, meledak-ledak dan mudah terkena godaan/rayuan oleh lingkungannya. Menyadari hal ini, pemahaman pengetahuan, keluasan pandangan tentang sesuatu harus mendalam sehingga benar-benar terhayati dalam hidupnya dan bila hal tersebut tidak baik siswa dapat menghindarinya.
Pengenalan aneka jenis penyakit, lebih-lebih yang bersinggungan dengan akibat kehidupan pergaulan bebas pantas diberikan kepada remaja dan lebih khusus lagi pada siswa-siswi di bangku sekolah. Salah satu penyakit berbahaya yang perlu disosialisasikan pada siswa yakni AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom kurangnya daya tahan tubuh terhadap penyakit. Penyakit ini ditularkan oleh virus HIV.
Virus ini dapat ditularkan dari seseorang ke orang lain melalui berbagai cara di antaranya, pertama, melalui hubungan seks penetratif tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan tercampurnya sperma dengan cairan vagina atau tercampurnya sperma dengan darah karena hubungan seks lewat anus. Ada pula perilaku beresiko pada kelompok laki-laki yang menyukai sesama jenis. Kedua, pemakaian jarum suntik, semprot dan peralatan suntik lainnya tindik atau tatto. Penggunaan jarum suntik yang sudah tercemar HIV dan dipakai bergantian tanpa disterilkan terlebih dahulu. Hal ini biasanya terjadi di kalangan pengguna narkotika suntikan. Meskipun demikian, pemakaian jarum suntik di dalam penyuntikan obat, imunisasi, tatto, tindik yang telah terkena virus HIV juga dapat menjadi media penularan.
Cara pencegahan antara lain, gunakan jarum suntik yang steril dan baru apabila melakukan pengobatan karena sakit. Bila telah nikah selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman dan tidak berganti-ganti pasangan. Semua alat yang menembus kulit dan darah termasuk pisau cukur jangan bergantian antara satu orang dengan orang lain. Apalagi orang tersebut telah diketahui menderita AIDS.
Siswa-siswi merupakan aset bangsa yang harus diselamatkan. Bila para siswa telah terkena polusi virus ini, harapan masa depannya benar-benar pudar. Tatapan hari esoknya akan suram dan penuh masalah. Dari dasar ini, maka peran guru dan lebih-lebih orangtua siswa tidak ringan.
Penanaman iman agama dan contoh perbuatan mulia dari guru dan orangtua merupakan modal yang paling mendasar bagi anak-anak bangsa. Bila generasi mudanya cerdas-cerdas dan berperilaku mulia akan mencerminkan harapan cerah bagi bangsa ini di masa depannya. Guru dan orang tua harus dibekali pengetahuan tentang bahya penyakit HIV/AIDS, sehingga mereka mampu memberikan keterangan tentang bahaya penyakit ini dan berusaha menjaga dan melakukan perlindungan terhadap penularan penyakit ini dengan melarang siswa dan anak-anak mereka terhadap perbuatan-perbuatan yang akan mengakibatkan tertularnya penyakit ini.  Memperingati hari AIDS sedunia mari selamatkan anak bangsa dari HIV/AIDS. Fastabiqul Khairat.
* Penulis adalah Guru PKn SMKN 03 Mukomuko

Minggu, 20 November 2011

MEMBANGUN DAERAH YANG BERBASIS PENDIDIKAN

MEMBANGUN DAERAH YANG BERBASIS PENDIDIKAN

Oleh Junaidi*

Bila kita lihat bahwa krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia (seperti tingginya angka pengangguran, meningkatnya masyarakat miskin, rendahnya daya beli masyarakat, makin maraknya kerusuhan, HIV/AIDS, peringkat korupsi Indonesia di dunia, dan lain-lain) secara substansial diakibatkan mutu sumber daya manusia Indonesia yang masih rendah.

Kita sudah memahami bersama bahwa kepemimpinan adalah inti manajemen, dan oleh sebab itu meningkatkan kemampuan manajemen merupakan sebuah keharusan jika keberhasilan pelaksanaan pendidikan dalam era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan diharapkan berhasil. Peningkatan kemampuan manajemen dapat dilakukan melalui kepemimpinan yang dapat menciptakan situasi yang kondusif bagi terjadinya inovasi dan perubahan-perubahan dengan menggunakan berbagai perangkat teknologi komunikasi dan informasi.

Adanya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, kemudian disempurnakan dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 dan UU Nomor 33 Tahun 2004, telah mengubah segala peraturan yang bersifat sentralis menjadi desentralis, di mana sejumlah kewenangan telah diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah untuk mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri. Pemerintah Daerah dapat melakukan kreasi, inovasi, dan improvisasi dalam upaya membangun daerahnya termasuk dalam bidang pendidikan.

Selanjutnya Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Hal tersebut diharapakan dapat dijadikan landasan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan, baik secara makro, meso, maupun mikro. Kerangka makro erat kaitannya dengan upaya politik yaitu desentralisasi dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, aspek mesonya berkaitan dengan kebijakan daerah tingkat provinsi sampai tingkat kabupaten, sedangkan aspek mikro melibatkan seluruh sektor dan lembaga pendidikan yang paling bawah, tetapi terdepan dalam pelaksanaannya bertumpu pada sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan.

MBS memberikan kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, disertai dengan seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya pengalihan kewenangan pengambilan keputusan ke level sekolah, maka sekolah diharapkan lebih mandiri dan mampu menentukan arah pembangunan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan tuntutan lingkungan masyarakat. Hal ini berarti bahwa sekolah harus mampu mengembangkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Partisipan lokal sekolah tak lain adalah Kepala Sekolah, guru, konselor, pengembang kurikulum, administrator, orang tua siswa, masyarakat sekitar, dan siswa. Sehubungan dengan pendapat tersebut, bahwa aspek politik dalam penyelenggaraan pendidikan di tingkat bawah menjadi tanggung jawab sekolah karena kewenangan dan kekuasaan yang selama ini terkonsentrasi pada pemerintah diserahkan ke sekolah sebagai penyelenggara pendidikan di masyarakat.

Manajemen kepala sekolah hendaknya juga terbuka. Kepala Sekolah secara transparan menjelaskan tentang pengelolaan sekolah, dalam hal penyelenggaraan program-program pendidikan, Sumber Daya Manusia, keuangan, dan sebagainya. Dengan demikian maka masyarakat akan mengetahui apa yang dilakukan oleh sekolah dan kemudian memberikan masukan dan dukungan terhadap program-program sekolah.

Proses kreatif dalam merencanakan strategi, kebijakan dan program kerja suatu organisasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan internal dan eksternal organisasi dinas pendidikan tersebut, baik pada sisi positif maupun sisi negatifnya . Jadi, analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi institusi/organisasi, dengan cara memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun pada saat bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman

Politik daerah yang terlalu ikut campur dalam pendidikan sangat merugikan dunia pendidikan. Ketika urusan guru berada di tangan daerah, posisi guru sangat rentan dipindah karena kepentingan politik atau masalah pribadi. Pengangkatan kepala sekolah tidak lagi objektif berdasarkan hasil tes calon kepala sekolah. Akan tetapi lebih berdasarkan subyektif dari penguasa di daerah, dengan hanya melalui tawaran melalui telepon. Akibatnya centralistis dalam dunia pendidikan tidak terelakkan yang membuat pemimpin pendidikan yang otoriter dan dictator.

Desentralisasi pendidikan telah berlangsung sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Dalam peraturan perundang-undangan disebutkan, semua urusan negara diserahkan ke daerah kecuali enam perkara, yakni keuangan, pengadilan, kehakiman, luar negeri, agama, dan pertahanan keamanan.

keterlibatan kontrol publik masih diposisikan terpisah dalam kebijakan Pemerintahan Daerah. Akibatnya terdapat peralihan milik kebijakan publik ke arah kebijakan yang samar, bahkan hanya menjadi elite kebijakan. walaupun ada political will Pemerintahan Daerah, juga masih dipenuhi oleh proses kedekatan dengan kelompok elite kebijakan, seperti eksekutif dan legislatif.

Dalam kebijakan pendidikan dibutuhkan komitmen kuat dari daerah untuk mengembangkan standar nasional pendidikan. Hal ini sangat penting untuk memenuhi tantangan pertumbuhan ekonomi yang makin pesat. Kompetensi standar kelulusan akan melahirkan manusia-manusia yang unggul dari daerah-daerah. Komitmen yang dimaksud adalah berupa alokasi anggaran yang lebih besar untuk pengembangan mutu pendidikan melalui pemenuhan kebutuhan agar standar pelayanan minimal mampu diimplementasi. paradigma pembangunan daerah dari fisik ke non fisik. Masih banyak diorientasikan ke pembangunan fisik daripada investasi pembangunan dalam bidang sumber daya manusia (non fisik). Hal ini dapat menimbulkan dampak kesenjangan sosial, terutama bagi para pendidik atau tenaga kependidikan dengan para pegawai kantoran. Dan perbedaan SDM yang dimiliki oleh para peserta didik dengan pegawai- pegawai lain. Di tengah maraknya praktik KKN, dunia pendidikan justru mengerang kesakitan lantaran gedung-gedung sekolah yang rusak berat, gaji guru yang seolah menghina kemuliaan profesi tersebut. Paparan di atas menyiratkan tanggung jawab multipihak dalam konsep desentralisasi pendidikan. Fastabiqul Khairat

* Guru PKn SMKN 03 Mukomuko