Keterkaitan Antarsila Pancasila
Soal Pemantik
1. Apa keterkaitan antarsila dalam Pancasila?
2. Bagaimana contoh sikap atau perilaku keterkaitan antarsila Pancasila?
3. Apa saja yang perlu dilakukan dalam menerapkan sila-sila Pancasila?
Keterkaitan antarsila dalam Pancasila merupakan aspek penting yang menunjukkan bagaimana masing-masing sila tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait dan mendukung satu sama lain untuk membentuk dasar ideologi dan nilai-nilai bangsa Indonesia.
1. Hubungan Keterkaitan Antarsila Pancasila
Berikut penjelasan tentang keterkaitan antarsila Pancasila.
a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa," memiliki peran utama dalam struktur nilai Pancasila dan menjadi fondasi bagi sila-sila lainnya. Peran dan pengaruh sila ini terhadap sila-sila lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Dasar moral dan etika (sila pertama)
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sumber nilai moral dan etika yang universal. Hal ini mencerminkan pengakuan akan keberadaan Tuhan sebagai fondasi etis yang mengatur perilaku manusia. Maka dari itu dengan mengutamakan nilai ketuhanan, Pancasila menekankan pentingnya hidup berdasarkah nilai-nilai spiritual dan etika yang luhur.
2) Perilaku adil dan beradab (sila kedua)
Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab secara langsung terkait dengan prinsip moral dan etika dari sila pertama. Mengakui keberadaan Tuhan mendorong manusia untuk berperilaku adil dan beradab terhadap sesama, menghormati martabat, dan hak asasi manusia.
3) Menghormati keberagaman dalam persatuan (sila ketiga)
Sila Persatuan Indonesia menjadi lebih berarti ketika didasari oleh penghormatan terhadap keberagaman yang diilhami oleh nilai-nilai ketuhanan. Penghormatan terhadap sesama, terlepas dari perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan, menjadi inti dari sila ini, yang juga mencerminkan nilai-nilai moral dan etika.
4) Demokrasi yang bijak (sila keempat)
Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mencakup aspek kebijaksanaan yang tidak lepas dari nilai-nilai moral dan etika. Keputusan yang diambil melalui musyawarah dan perwakilan diharapkan mencerminkan nilai-nilai ketuhanan, dengan menitikberatkan pada keadilan dan kebenaran.
5) Mencapai keadilan sosial (sila kelima)
Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah tujuan yang diilhami oleh nilai-nilai ketuhanan. Sila ini memandu bangsa Indonesia untuk berupaya mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera, di mana setiap warga negara mendapatkan hak dan kewajiban yang sama tanpa diskriminasi.
b. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab
Sila kedua Pancasila, "Kemanusiaan yang adil dan beradab", memiliki peran penting dalam struktur nilai Pancasila dan memberikan kontribusi signifikan terhadap sila-sila lainnya. Berikut cara sila ini mendukung dan berkaitan dengan sila-sila lain dalam Pancasila.
1) Penghormatan terhadap martabat manusia (sila kedua)
Sila ini menekankan pentingnya menghormati martabat setiap manusia, yang merupakan prinsip dasar bagi keadilan dan peradaban. Hal ini menciptakan fondasi bagi masyarakat yang adil dan beradab, di mana setiap individu dihargai dan diperlakukan dengan keadilan.
2) Dukungan terhadap persatuan nasional (sila ketiga)
Dengan menekankan pada Kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ini secara langsung mendukung "Persatuan Indonesia". Penghormatan terhadap keragaman budaya, etnik, agama, dan sosial merupakan kunci untuk menciptakan dan memelihara persatuan nasional. Sila ini mengajarkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber konflik, tetapi lebih sebagai kekayaan yang memperkuat persatuan.
3) Memperkuat prinsip demokrasi (sila keempat)
Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mendapatkan dukungan dari prinsip Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam konteks demokrasi, menghormati hak dan martabat setiap individu menjadi sangat penting. Keputusan yang diambil melalui proses musyawarah harus mencerminkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan untuk memastikan bahwa demokrasi berjalan dengan bijak dan adil.
4) Mendukung keadilan sosial (sila kelima)
Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sangat terkait dengan prinsip Kemanusiaan yang adil dan beradab. Perilaku adil dan beradab terhadap semua individu adalah prasyarat untuk mencapai keadilan sosial. Hal ini termasuk kesetaraan dalam akses terhadap sumber daya, kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik, serta perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif dari pemerintah dan institusi masyarakat.
c. Sila Persatuan Indonesia
Sila ketiga Pancasila, "Persatuan Indonesia", memiliki peranan krusial dalam memelihara kesatuan dan integritas bangsa Indonesia. Sila ini tidak hanya mencerminkan aspirasi untuk menjaga kesatuan wilayah dan bangsa, tetapi juga menggarisbawahi pentingnya memupuk persatuan dalam keberagaman. Berikut sila ketiga mendukung dan berkaitan dengan sila-sila lain dalam Pancasila
1) Menghormati kemanusiaan dan keragaman (sila kedua)
Sila Persatuan Indonesia sangat terkait dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab. Penghormatan terhadap martabat manusia dan penerimaan keragaman adalah dasar untuk membangun dan memelihara persatuan. Dengan menghormati perbedaan suku, ras, agama, dan budaya, Persatuan Indonesia menjadi manifestasi nyata dari prinsip kemanusiaan dan keadilan..
2) Memperkuat demokrasi (sila keempat)
Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan diperkuat oleh prinsip persatuan. Dalam konteks demokrasi, penting untuk memastikan bahwa semua suara, dari berbagai latar belakang dan daerah, didengar dan dihargai. Hal ini membantu memastikan bahwa keputusan yang dibuat mencerminkan kepentingan nasional yang lebih luas, dan bukan hanya kelompok tertentu.
3) Menjaga keadilan sosial (sila kelima)
Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan tujuan yang dapat dicapai dengan lebih efektif dalam kerangka persatuan nasional. Persatuan membantu memastikan bahwa kebijakan dan tindakan diarahkan untuk kesejahteraan semua bagian masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu. Hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas yang mendukung pencapaian keadilan sosial.
d. Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Sila keempat Pancasila, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan," menegaskan pentingnya prinsip demokrasi yang bijaksana dan inklusif dalam pengambilan keputusan. Sila ini mengandung arti penting dalam konteks sosial dan politik Indonesia, dan berhubungan erat dengan sila-sila lain dalam Pancasila, sebagai berikut.
1) Menghormati hak dan martabat individu (sila kedua)
Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab sangat relevan dengan sila ini. Dalam praktik demokrasi, menghormati hak dan martabat setiap individu adalah esensial. Hal ini berarti setiap keputusan yang diambil harus mempertimbangkan dan melindungi hak asasi manusia serta martabat setiap warga negara tanpa diskriminasi.
2) Menjaga persatuan (sila ketiga)
Sila Persatuan Indonesia juga terkait erat dengan sila keempat. Dalam demokrasi, penting untuk memastikan bahwa semua suara dari berbagai latar belakang dan daerah di Indonesia didengar dan dipertimbangkan. Pendekatan musyawarah dan perwakilan yang bijaksana membantu menjaga persatuan dan kesatuan nasional dengan mengakomodasi keberagaman pendapat dan kepentingan.
3) Memberikan keadilan sosial (sila kelima)
Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan tujuan utama yang harus dicapai melalui praktik demokrasi yang bijaksana. Kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan tidak hanya mengutamakan kepentingan mayoritas, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dan hak-hak kelompok minoritas dan yang tidak berdaya, sehingga menciptakan keseimbangan dan keadilan sosial di seluruh lapisan masyarakat.
e. Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Sila kelima Pancasila, "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," merupakan puncak dan sintesis dari empat sila sebelumnya, menekankan pada pentingnya mewujudkan keadilan sosial di seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Sila ini mengintegrasikan dan merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila lainnya dalam Pancasila, sebagai berikut.
1) Aspek moral dan etika (sila pertama)
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan dasar moral dan etika untuk keadilan sosial. Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa menginspirasi prinsip-prinsip etis yang mengarah pada perlakuan yang adil dan berkeadilan bagi semua warga negara, tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka.
2) Menghormati kemanusiaan (sila kedua)
Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah fondasi bagi pencapaian keadilan sosial. Dengan menghormati martabat dan hak asasi setiap individu, keadilan sosial menjadi lebih dari sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang menghargai dan melindungi setiap warga negara.
3) Menjaga kesatuan (sila ketiga)
Sila Persatuan Indonesia sangat relevan dalam konteks keadilan sosial. Dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia, persatuan nasional menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap bagian dari masyarakat merasakan manfaat keadilan sosial, tanpa ada yang terpinggirkan atau diperlakukan secara tidak adil.
4) Menerapkan demokrasi yang adil (sila keempat)
Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan berkontribusi pada pencapaian keadilan sosial melalui proses demokratis yang adil dan inklusif. Dengan memastikan bahwa semua suara terdengar dan kepentingan semua golongan dipertimbangkan, demokrasi yang sejati membantu mempromosikan keadilan sosial.
2. Contoh Sikap atau Perilaku Keterkaitan Antarsila Pancasila
Contoh sikap atau perilaku yang mencerminkan keterkaitan antarsila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Berikut beberapa contohnya.
a. Toleransi beragama (sila pertama dan kedua)
Sikap toleransi beragama adalah contoh konkret dari praktik yang mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama dan kedua Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab. Berikut beberapa aspek sikap toleransi beragama mencerminkan kedua sila tersebut.
1) Menghormati kepercayaan agama orang lain (sila pertama)
Penghormatan terhadap kepercayaan agama orang lain mencerminkan esensi dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menekankan pentingnya pengakuan dan penghormatan terhadap keberagaman keyakinan dan praktik keagamaan. Hal ini menunjukkan pemahaman bahwa dalam keberagaman cara beribadah dan berkeyakinan, setiap individu memiliki hak untuk menjalankan agamanya tanpa gangguan.
2) Tidak memaksakan keyakinan (sila pertama dan kedua)
Tidak memaksakan keyakinan pada orang lain adalah tindakan yang menghormati prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa serta Kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini menunjukkan penghormatan terhadap kebebasan beragama dan keyakinan individu, serta mengakui bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih dan menjalankan keyakinan mereka sendiri.
3) Berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan lintas agama (sila kedua)
Berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan lintas agama menunjukkan penghormatan dan pengakuan terhadap kemanusiaan yang beradab. Hal ini menciptakan ruang untuk dialog, pemahaman, dan perdamaian antarumat beragama, yang merupakan manifestasi dari menghormati martabat dan hak asasi manusia, sejalan dengan sila kedua.
b. Kegiatan gotong royong (sila kedua, ketiga, dan kelima)
Kegiatan gotong royong merupakan contoh nyata dari aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam sila kedua, ketiga, dan kelima Pancasila. Kegiatan ini melibatkan kerja sama komunal dan saling membantu yang mencerminkan beberapa prinsip penting dari Pancasila, berikut penjelasannya.
1) Kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua)
Kegiatan gotong royong menunjukkan sikap peduli dan empati terhadap sesama. Dalam membantu sesama, baik dalam membersihkan lingkungan atau membantu tetangga yang menghadapi kesulitan, terwujud nilai Kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini menekankan pentingnya berpe ilaky adil dan beradab dalam interaksi sosial.
2) Persatuan Indonesia (sila ketiga)
Gotong royong memperkuat ikatan sosial dan persatuan di antara masyarakat. Melalui kegiatan bersama ini, masyarakat dari berbagai latar belakang bisa bersatu untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini menunjukkan keragaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun persatuan dan solidaritas komunal.
3) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila kelima)
Dalam gotong royong, setiap individu memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan mendapatkan manfaat dari kerja sama tersebut. Hal ini mencerminkan prinsip keadilan sosial, di mana setiap anggota masyarakat mendapat kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan mendapat manfaat dari hasil kerja bersama.
Kegiatan gotong royong tidak hanya membantu dalam menyelesaikan tugas atau masalah tertentu, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kerja sama, kesetaraan, dan kepedulian terhadap sesama, yang merupakan inti dari sila-sila Pancasila. Hal ini menjadi contoh nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam praktik sehari-hari, memberikan manfaat nyata baik bagi individu maupun komunitas.
c. Musyawarah untuk mufakat (sila kedua, keempat, dan kelima)
Praktik musyawarah untuk mufakat yang mencerminkan nilai-nilai sila kedua, keempat, dan kelima Pancasila merupakan contoh dari aplikasi prinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan berbagai sila Pancasila saling terkait dan mendukung satu sama lain, berikut penjelasannya.
1) Kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua)
Proses musyawarah memungkinkan setiap anggota keluarga atau rekan kerja untuk menyampaikan pendapat dan pandangan mereka dengan cara yang adil dan beradab. Hal ini mencerminkan rasa hormat terhadap pendapat dan hak setiap orang untuk didengar, sesuai dengan prinsip kemanusiaan yang menghargai martabat setiap individu.
2) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (sila keempat)
Musyawarah untuk mufakat adalah esensi dari demokrasi yang deliberatif, di mana keputusan diambil berdasarkan diskusi dan konsensus, bukan melalui pemungutan suara mayoritas saja. Hal ini menunjukkan penerapan prinsip demokrasi yang dipimpin oleh kebijaksanaan, di mana setiap anggota diberi kesempatan untuk berkontribusi dalam pembuatan keputusan.
3) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila kelima)
Melalui musyawarah, setiap keputusan diupayakan untuk mencapai manfaat dan keadilan bagi semua pihak yang terlibat. Hal ini mencerminkan usaha untuk menciptakan keseimbangan dan keadilan sosial dalam kelompok atau masyarakat, di mana kepentingan bersama diutamakan.
d. Antidiskriminasi (sila kedua dan kelima)
Sikap antidiskriminasi sangat sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sila kedua dan kelima Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Berikut ini mencerminkan nilai-nilai Pancasila diaplikasikan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan inklusif.
1) Kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua)
Menunjukkan sikap antidiskriminasi terhadap perbedaan suku, ras, agama, atau gender adalah manifestasi langsung dari prinsip Kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini mencerminkan komitmen untuk menghormati martabat setiap individu dan mengakui bahwa setiap orang, tanpa memandang perbedaan tersebut, memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diperlakukan dengan adil.
2) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila kelima)
Sikap antidiskriminasi juga berkontribusi langsung pada pencapaian keadilan sosial. Dengan menentang diskriminasi dan mengupayakan kesetaraan, masyarakat bergerak menuju kondisi di mana setiap warga negara memiliki akses yang sama ke peluang, sumber daya, dan perlakuan adil, yang merupakan inti dari keadilan sosial.
e. Partisipasi dalam pemilu (sila keempat dan ketiga)
Partisipasi aktif dalam pemilihan umum (pemilu) merupakan contoh nyata dari penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam sila keempat dan ketiga Pancasila, yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan persatuan Indonesia. Berikut penjelasan mengenai partisipasi dalam pemilu mencerminkan kedua sila tersebut.
1) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (sila keempat)
Berpartisipasi dalam pemilihan umum adalah bentuk langsung dari prinsip demokrasi. Setiap warga negara yang menggunakan hak suaranya turut serta dalam proses demokrasi yang bijaksana dan terstruktur. Melalui pernilihan umum, warga negara memiliki kesempatan untuk memilih perwakilan mereka yang akan membuat keputusan penting atas nama mereka. Hal ini merupakan praktik konkret dari prinsip kerakyatan, di mana kebijakan dan kepemimpinan dipilih melalui proses musyawarah (pemilihan) yang melibatkan seluruh warga negara.
2) Persatuan Indonesia (sila ketiga)
Partisipasi dalam pemilu juga mendukung prinsip Persatuan Indonesia. Melalui pemilihan umum, warga negara dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan golongan bersatu untuk menentukan masa depan negara. Proses ini memperkuat konsep bahwa, meskipun beragam, semua warga negara Indonesia memiliki hak yang sama serta peran penting dalam menentukan arah dan kebijakan negara. Dengan berpartisipasi, warga negara menunjukkan komitmen mereka terhadap persatuan nasional dan proses demokratis.
Asesmen Formati
Bacalah teks berikut untuk menjawab soal nomor 1-5!
Mengurai Konsepsi Gotong Royong dalam Pancasila
Jakarta (29/9)-Pancasila mengandung nilai-nilai dan keyakinan yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai ideologi bangsa, nilai-nilai Pancasila perlu ditanamkan dalam diri setiap individu warga negara sejak usia dini. Salah satu nilai penting yang secara tersirat dalam ideologi Pancasila adalah nilai gotong royong.
Asisten Deputi Pemberdayaan Pemuda, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko, PMK), Yohan menjelaskan bahwa kata gotong royong berasal dari kata dalam bahasa Jawa. Kata 'gotong' dipadankan dengan kata 'pikul atau angkat. Sementara kata 'royong' dipadankan dengan bersama-sama. Secara sederhana kata tersebut berarti mengangkat sesuatu secara bersama-sama atau dapat diartikan juga sebagai mengerjakan sesuatu secara bersama-sama.
Hal itu, disampaikan Yohan saat membuka Kuliah Umum Yudi, Latif, Ph.Di dalam rangkaian kegiatan Sekolah Harmoni Indonesia (SHI) yang diadakan Pusat Studi-Islam dan Kenegaraan (PSIK)-Indonesia, secara virtual melalui zoom meeting, pada Selasa (29/9), "Jadi, gotong royong memiliki pengertian sebagai bentuk 'partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi nilai tambah atau positif kepada setiap objek, permasalahan, atau kebutuhan orang banyak di sekelilingnya," ujar Yohan.
Yohan mengatakan bahwa kegiatan kuliah umum Yudi Latif, Ph.D. yang membalas nilai-nilai Pancasila dan implementasinya, serta telah dilakukan secara berseri ini diharapkan dapat menambah wawasan berpikir masyarakat agar lebih mencintai Pancasila dan menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam paparannya, Yudi Latif, Ph.D. menyampaikan bahwa dasar dari semua komponen dalam Pancasila adalah gotong royong. Memang gotong royong tidak tercantum secara eksplisit dalam kelima sila Pancasila, namun, gotong royong merupakan inti sari dari dasar negara Indonesia tersebut. "Kelima nilai Pancasila harus diaktualisasikan berdasarkan nilai-nilai gotong royong. Sebagai contoh, pada sila pertama, yakni, prinsip ketuhanan, harus dilandasi jiwa gotong royong. Artinya, aktivitas ketuhanan harus mengakomodasi nilai-nilai budaya lokal, bersifat lapang, transformatif, serta mampu membina toleransi antarumat beragama," jelas Yudi Latif.
Pancasila tidak menghendaki ketuhanan yang saling menyerang, mengucilkan, dan mendominasi agama-agama yang lain. Selain itu, Yudi Latif, Ph.D. juga menekankan bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk bergotong royong. Diharapkan gotong royong lebih dari sekadar ikatan di dalam suku, namun juga antarkesukuan.
1. Salah satu nilai penting yang secara tersirat dalam ideologi Pancasila adalah nilai
a. gotong royong
b. kemandirian
c. keberanian
d. perpecahan
2. Berilah tanda centang (✔) pada pernyataan yang sesuai atau tidak sesuai berdasarkan teks tersebut!
Pernyataan
Sesuai
Tidak Sesuai
Pancasila mengandung nilai-nilai dan keyakinan yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai ideologi bangsa, nilai-nilai Pancasila perlu ditanamkan dalam diri setiap individu warga negara sejak mereka dewasa.
Dasar dari semua komponen dalam Pancasila adalah gotong royong
Pancasila menghendaki ketuhanan yang saling menyerang, mengucilkan, dan mendominasi agama-agama yang lain.
3. Berilah tanda centang (✔) pada pernyataan yang benar!
Kata gotong royong berasal dari kata dalam bahasa Jawa yaitu 'gotong' dan 'royong'.
Gotong royong memiliki pengertian sebagai bentuk 'partisipasi pasif dari setiap individu
Gotong royong berarti mengerjakan sesuatu secara sendiri-sendiri.
Gotong royong tidak tercantum secara eksplisit dalam kelima sila Pancasila
4. Kata 'royong' dalam bahasa Jawa dipadankan dengan kata bersama-sama
5. Jelaskan gotong royong dalam sila pertama Pancasila!
Tugas Kelompok
Kerjakan tugas berikut secara berkelompok!
1. Bentuklah kelompok yang terdiri atas 3-4 siswal
2. Bersama kelompok Anda lakukan kegiatan diskusi mengenal contoh nyata pengaplikasian keterkaitan antarsila Pancasila dalam bidang pendidikan!
3. Tuliskan hasilnya dalam bentuk PowerPointi Kemudian presentasikan hasilnya di depan kelas Anda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar